Please enable JavaScript to access this page. Kaki Semut
  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Peta

kemana perjalanan akan kau lanjutkan jika tak tahu arah

pada dinding tergambar
jalan, rumah-rumah, jembatan, sungai, jalan yang rusak

pada dinding tergambar
pertigaan, permpatan, lapu lalu lintas, taman

pada dinding tergambar
rumah yang ber cat biru berpagar bambu yang telah mulai koyak dimakan oleh waktu
dan di tumbuhi oleh semak belukar

pada dinding tergambar
jalan-jalan yang rusak dan berlubang
serta genangan air sisa hujan semalam

pada dinding tergambar
pasar yang ramai, kotor dan kumuh
dekat perumahan yang berjajar rapi itu

pada dinding terganbar
suasana kota yang mulai sayu
kehilangan matahari

kemana kau akan melanjutkan perjalanan jika kau tak tahu arah



by_ahadi b elisa
Share:

hanya kamu

Sungguh hanya dirimulah
Yang akan selalu ada dalam ingatan dan dalam hati ku
Tidak akan ada yang sanggup untuk
Menggantikan mu dalam hatii ku
Dan hidup ku
Karena sesungguhnyya hanya engkaulah
Orang yang selalu ku sayang dan ku cinta
Dengan sepenuh hati
Aku akan selalu ada untukmu dan akan tetap selalu menunggumu
Untuk selama-lamanya


by_ahadi b elisa
Share:

Bread Talk (mengenang waktu bersamamu)

Entah dari mana aku memulainya, semuanya mengalir begitu saja tanpa sekenario apapun. Dalam, dalam, dan semakin dalam kurasakan. Kenikmatan yang sulit kupungkiri, memberi kesan bahwa akulah orang yang paling bahagia. Seolah-olah hanya aku dan dia yang ada di dunia ini (mungkin ada lainnya dan itupun hanya menyewa menurutku).
Terasa dalam ikatan yang kita miliki tak mampu ku lepas dari jeratnya begitupun sebaliknya. Seharipun tak beradu kasih bersamanya, seperti dunia mogok untuk berputar, sunyi senyap dan pengap. akupun mulai paham akan setiap kebiasaan yang dibawanya. Apakah itu sudah dari kecil ketika ia tinggal bersama orang tuanya atau baru kali ini ketika bersamaku. Entahlah, aku sangat menikmati setiap tingkah yang ditampakkannya.
Aku teringat suatu ketika ia berbicara kepadaku, “dia tak pernah memperlakukanku seperti ini setiap aku merengek kepadanya. Biarkanlah aku selalu merebahkan tubuhku dipangkuanmu setiap kali aku merasakan ngantuk karena lelah bekerja seharian diluar” tak lama kemudian ia melanjutkan bicaranya yang sempat tertunda sejenak dengan nafas yang mendesah berat. “satu alasan lain yang begitu kuat menyiksaku karena seharian aku merasakan rindu yang begitu berat kepadamu”. Sejak itulah sebisa mungkin ku memberikan yang terbaik baginya dan tentunya aku akan selalu ada setiap ia membutuhkannku. Tatapannya yang polos dengan penuh kehausan akan kasih sayang dari orang yang ia harapkannya membuatku semakin ngilu dan ingin merengkuhnya setiap ia ingin mengalirkan butir air mata yang ingin membasahi wajahnya yang kuyu.
Setiap kali ia merengkuhku dari belakang kurasakan ada sosok anak kecil yang ingin dimanja oleh ibunya, segera ku buka tangannya yang mengikat perutku dan ku berbalik menatap tajam kearahnya sambil memberi kecupan hangat di bibirnya. Itulah kebiasaan setiap kali ia bagun dari tidur lelapnya semalaman. Semua telah ku siapkan, Air hangat telah berada dikamar mandi lengkap dengan handuk kesayangannya, pakaian kerja yang dipakainya kekantor telah rapi dan tergantung di lemari kamar tidurnya. Hampir semua kebiasannya ku mengerti. Hingga saatnya ku temani ia sarapan pagi. Sepotong roti dengan susu coklat sudah menyambut ia di meja makan. Kebiasaan yang tak ketinggalan setiap ia duduk menatap makanan dihadapannya yaitu ia menyuruhku mengajak ngobrol sambil mata kami beradu pandang dengan sedikit tawa yang menggelitik. Terasa geli memang, namun itulah kebiasaan selalu dibuatnya yang membuatku semakin ingin memiliki ia sepenuhnya.
Aku hampir kecanduan akan tingkah lakunya sedikit ke kanak-kanakan itu, sehari tak datang kerumah atau sekadar menelepon untuk memberi kabar. pikiranku terasa bimbang, jantungku berdegup tak beraturan serta gelisah selalu mengusik relung hatiku. Kemana ia pergi? dengan siapa ia pergi? jangan-jangan? Akh sudahlah, aku terlalu berlebihan. Biarlah aku menuggu disini sampai ia datang kepadaku. tak lama kemudian suara bel berbunyi, suaranya yang nyaring memecahkan hayalan burukku tentangnya. Ku buka pintu perlahan, ia datang dibalik pintu dengan membawa kue caramel yang dibelinya di bread talk tadi. Secara tidak sadar aku sering membeli kue itu ketika aku jalan-jalan dengannya. Tak kusangka kebiasaanku itu telah terekam diingatannya. disanalah pertama kali kita bertemu, kita sering beradu pandang meskipun tidak saling kenal satu sama lain.
“halo sayang, ku bawakan kue kesukaanmu” ia tersenyum dengan menampakkan kue dari belakang punggungnya.
“hemm… begitu menggoda. Di sore yang indah menikmati kue caramel yang lezat. Thank you honney” kecupan dari bibirku mendarat di pipinya. satu hadiah manis kuhadiahkan kepadanya.
Kulewati sore yang indah bersamanya untuk kesekian kalinya. Sebungkus kue caramel dengan cappuccino ku hidangkan di meja balkon tempatku bersantai bersamanya setelah jenuh akan rutunitas yang menyita waktuku denganya setiap harinya. Berteman senja dilangit sana bertabur awan-awan putih bergelantungan seakan ingin menjatuhkan hujan di atas tanah yang mengering karena sengatan mentari dihari ini. Begitu selalu kulewati setiap kesempatan yang ada untuk ku lewati bersamanya. Meskipun ini terlarang, tetapi inilah fakta yang ada.
Seharusnya aku bahagia dengan semua yang aku punya sekarang ini. Rumah berserta isinya, mobil mewah berjejer di garasi, gaji setiap bulan bersarang di rekeningku. Tetapi kenapa semakinku rasakan semakin ku takut aku kehilangan dia. Balkon tempatku besantai denganya selalu kudatangi sekadar mengusap rinduku yang semakin tak terbendung. Beranda tempatku menunggu setiap ia akan bermain kerumah tak juga hapuskan rasa takut yang mencekam. Dan ketakutanku selalu sirna dengan kehadirannya yang tiba-tiba dibalik pintu rumahku.
Kali ini benar-benar rasa takut itu menerorku, Sudah seminggu ia tak memberi kabar kepadaku. Kecurigaan kembali bersarang dibenakku. Apakah ia sekarang bersama dia? Apakah ia telah menemukan cintanya kembali? Hatiku begitu hancur jika itu benar adanya. Cinta yang kuberikan selama ini akan sirna begitu saja dihatinya. Aku tergeletak dalam ranjang tempatnya ia biasanya tidur dipangkuannku. Aku mengenang akan kisah yang kita jalani salami ini. begitu legit, selegit kue caramel yang selalu ia bawakan untukku.
Kali ini kuberanikan diri menghampiri tempat ia bekerja. Kulangkahkan kaki pelan-pelan sambil ku putarkan leher dengan mata bergerak kekanan dan kekiri berharap aku menemukan sosok yang kucari. Kuikuti kemana kakiku melangkah, sampai akhirnya aku berada di depan tempat resepsionis. Dengan senyum yang tulus wanita itu menanyaiku.
“ada yang bisa saya bantu, bu?”
“apakah bapak Dimas ada dikantor saat ini? Aku masih saja memutarkan kepalaku
“o… bapak Dimas. Maaf Ibu, bapak Dimas sudah seminggu ini tidak masuk kantor, beliau izin karena ada keluarganya yang sakit”.
“terima kasih” kataku kaku.
segera ku cepat-cepat bergegas meninggalkan resepsionis tadi. Seolah-olah aku seperti orang yang kerasukkan roh jahat dikantor itu. Tubuhku terasa lunglai mendengar tadi, seperti mau pingsan di tempat. Tapi itu tidak mungkin. Aku menuju mobilku yang kuparkir tidak jauh dari halaman kantor. Kukendarai ugal-ugalan. Aku tidak memperdulikan keadaan sendiri. Aku sudah tidak berpikir jika aku akan terjatuh atau polisi akan menilangku. aku tidak memperdulikannya semuanya. Sekarang yang ada dalam pikiranku hanya ada dia dan dia.
Aku tidak pantas memupuk kecemburuanku pada dia yang memberikan perhatian lebih terhadap wanita lain selain diriku. Sebenarnya ia telah beristri sejak lima tahun yang lalu. Aku sudah mengetahui itu sebelum aku mengenalnya lebih dekat. Aku hanya tau jika istrinya selalu mengekang terhadap apa yang menjadi keinginannya terutama dalam hal berkarir. Aku paham dengan sikap ia yang lembut itu, dibalik kelembutannya ada keliaran yang merasuk didalam jiwanya. Semenjak bersamaku kelembutan-kelembutan yang seharusnya ia berikan kepada istrinya semua tercurah kepadaku. Karena denganku ia bisa mengeluarkan gairahnya sebagai lelaki. Sehinggga waktunya habis bersamaku. aku sangat paham sekali dalam dirinya. Ia ingin sekali pulang kerumah dan bermanja dengan istrinya. Karena sikap protektif yang diberikan kepadannya, ia mulai tidak betah dirumah. Ia sering mampir dirumahku, rumah yang ia belikan untukku.
Sampailah aku didepan rumah. Kumasukkan mobil kegarasi. Aku mulai menapaki jalan yang menuju pintu halaman rumah. Tak kusangga, kulihat sosok orang yang sekiranya aku kenal siapa dia. Dengan tubuh yang tinggi kurus seperti orang yang kurang berolah raga, tapi aku menyukainnya. Mas Dimas, memang benar dia. Ia duduk diberanda tempat aku menunggunya setiap hari. Segera ku hampirinya, aku mendekap erat-erat tubuhnya yang kurus itu, ia berbalik membalas dekapanku. Kami menikmati dekapan yang terasa hangat ini. Namun itu tak bertahan lama. Ia melepaskan dekapannya dan tanganku.
“maafkan aku sayang, aku tak memberi kabar selama ini. Istriku sakit parah. ginjalnya bermasalah dan akan dioperasi. Aku harus mendampinginya. Aku sangat mencintainya seperti aku mencintaimu. Tapi dia istri sahku. Tidak mungkin aku meninggalkannya sendirian”. Ia sambil menyakinkanku.
“mungkin ini jalan yang terbaik bagi kita. Sudah seharusnya aku kembali kepada istriku. Terima kasih atas semua yang kau berikan kepadaku selama ini. Mungkin kita akan menjadi saudara saja nantinya. Suatu saat akan ku kenalkan kau dengan istriku jika kau mau. Dan sekarang aku harus kembali menemani istriku dirumah sakit”.
Suasana hening mengubur kami. Aku terdiam, seperti tersambar petir disiang hari. Semuanya akan berakhir sebentar lagi. Aku tak mampu mengakirinya. Dimas menyeret tubuhku dan mendaratkan bibirnya dibibirku. Mungkin ini tanda perpisahan darinnya untukku.
“sekali lagi maafkan aku sayang”
“Kubawakan kue kesukaanmu. Kue caramel kupesan dari bread talk tempat pertama kali kita bertemu.
“Sekarang Aku harus pergi. Goog bey hunney”.
Sampai detik pertemuanku dengannya tak sepatah katapun yang keluar dari bibirku. Aku hanya tertegun memandang dimas semakin lama semakin hilang dibalik pintu mobil yang dikendarainnya. dalam hatiku berkata “I love you hunney” ku ikuti dengan gerakan bibir yang lamban. Mungkin ia juga merasakan perkataan ku tadi. Tak berselang lama aku berucap ia mengirim pesan ke ponselku
“I love honey. I will always miss you”
Sender:
Sayang Dimas
085655401343

Semenjak itu semangat hidupku melemah tanpa asupan kasih darinya. Tak mungkin ku beranjak menuju kediamannya yang resmi. Meskipun ku tertatih menjalani hidup ini menjamu rindu yang selalu hinggap di benakku. Tatapi ada suatu kebahagian yang tulus dalam diriku. Aku bahagia melihat orang yang kucintai bahagia meskipun bahagianya tidak bersama ku. Sehari kemudian aku meninggalkan semua pemberian dari Dimas termasuk mobil dan rumahku. aku akan menjalani hidup sebagaimana mestinya. biarkan itu semua menjadi kenangan diantara kita bahwa ada cinta diantara kita. cinta tumbuh dari bread talk dan berakhir dengan bread talk.

Februari 2011





by_licca
Share:

Biar Angin yg Menjawab

Seperti itukan aku yang selalu menerjemahkan mimpi yang tak kunjung tampak

sedemikian terasa asing dan berubah setiap kali aku bergerak

serupa garis melengkung, terkadang lurus, serta tak beraturan

tak jarang gelembung-gelembung nafasmu ikut mendesah di punggung telingaku



seraut wajahmu tampak mendung menggantung

seakan tumpahkan butiran hujan didaratan pipimu yang gersang



tak apakah dirimu diseberang sana?

hatiku nanar menerawang akan mimpiku semalam yang berulang

mengetuk jantungku untuk pamit menghampirimu meskipun hanya batin yang bicara



ku ingin kau slalu seperti angin

yang slalu berbisik mengajakku bercinta dengan suara

menghembuskan segala kesahmu, ataukah keceriaan yang mengelitik jiwamu untuk tertawa

biar kuhirup lewat kedua hidungku, kemudian kan ku kirim kembali lewat hembusan nafas yang ku keluarkan

sebagai jawaban atas segala rasa pada dirimu



kali ini biar angin yang menjawab

kataku telah terbelenggu jarak akan dirimu yang terpenjara waktu

menghadangi tubuh masing-masing untuk bersatu dalam dekapan


by_Licca Y.A
Share:

Sengketa

"PERSOALANNYA bukan harta, Anakku. Tapi hak. Tanah ini adalah milik
kita yang sah, apapun yang terjadi kita harus mempertahan kannya."

"Benar soal hak, tapi haruskah untuk itu kita saling bermusuhan.
Haruskah karena itu kita saling dendam. Mak yang mengajari dulu,
mengalah bukan berarti kalah. Tapi kenapa sekarang Mak tak mau
mengalah?"

Perempuan tua yang dipanggil Mak oleh anak perawannya tersebut hanya
diam. Dadanya yang cuma dibalut kutang tua, memperlihatkan dengan
jelas susunan tulang-tulang di dadanya turun naik, seperti menahan
sesak yang tak kunjung lepas.

"Muni, kau masih terlalu muda untuk memahami arti sebidang tanah bagi
kita. Kelak bila kau dewasa, menjadi ibu, kemudian menjadi tua seperti
Mak-mu ini, kau juga akan bersikap sama. Ingat Muni, sejauh-jauh pergi
merantau, tanah kampung tetap punya arti."

Setelah itu diam. Tak ada yang ingin mulai berujar. Sayup-sayup suara
jengkrik memecah malam. Sedangkan cahaya kunang-kunang kelap-kelip,
menyelinap masuk lewat dinding tadir.

Muni, gadis yang baru masuk dalam kehidupan desa setelah lebih enam
tahun ikut bako-nya di kota, tak mampu memejamkan mata, setelah
percakapan itu. Betapa desa telah sarat dengan keganji lan, juga
Mak-nya. Dulu wanita itu amat patuh, lugu dan pendiam, layaknya
seorang wanita desa. Tapi kini? Betapa Mak menjadi keras hati dan
pantang menyerah.

Enam tahun di kota, sampai Muni menamatkan SMA, betapa lamanya jarak
itu. Jarak yang telah mampu mengubah segalanya, juga wajah desa, yang
saat di kota amat dia rindukan. Tak ada lagi jalan setapak menuju
kali, tempat dulu dia bersuka ria. Tak lagi ada anak perawan dengan
tudung lebar menampi padi di pinggir sawah. Tak juga ada lenguh
kerbau, suara itik serta bau lumpur yang menyengat. Jalan setapak
telah berubah menjadi jalan aspal. Sawah telah menjadi rumah-rumah.

Yang tak berubah hanyalah pondok tempat Muni, adik-adiknya serta Mak
menghabiskan hari-hari mereka. Pondok beratap rumbia, berlantai papan
dengan dinding tadir, berukuran enam kali enam meter. Lalu serumpun
talang di pekarangan samping kanan, yang nampaknya makin rimbun saja.

Dari balik dinding kamar tidur, Muni menangkap suara gesekan daun-daun
talang, lemah tapi mendayu. Seperti suara anak perawan yang berdendang
lirih, menangisi kematian sang tunangan. Dulu, talang itu kerap dia
tebang untuk mendapatkan satu ruas buat celengan. Atau jika bulan
maulud tiba, talang itu akan jadi korban, dijadikan wadah membuat
lemang.

Ketika seminggu lalu kembali Muni menginjakkan kaki di desa, dia lihat
talang itu berpagar kawat duri. Rimbunan daunnya meliuk- liuk ke
pondok mereka, membuat suasana kelam jadi sendu. Kala Muni pergi,
talang itu hanya serumpun kecil, tapi kini sudah merupakan sebuah
lingkaran dengan rumpun besar.

Di bawah talang itu pula kemarin dia lihat Mak Adang-nya
mengacung-acungkan parang.

RUMPUN talang itu sudah ada sejak lama, jauh sebelum Muni lahir. Dan
rumpun talang itu telah disepakati menjadi batas tanah mereka, tanah
Mak dan Mak Adang-nya. Sedangkan batas tanah Mak dan Etek-nya adalah
batang mangga besar di samping kiri pondok mere ka. Tanah pusaka
tinggi yang telah dibagi-bagi itu menjadi sumber kehidupan mereka;
Mak, Mak Adang dan Etek-nya.

Di atas tanah yang luasnya 500 meter itu ada pohon kelapa, garda
munggu dan merica. Ada juga tanaman muda berupa ubi dan cabe. Dalam
resah, Muni ingin menatap keluar, menatap ke arah rumpun talang. Tapi
bulan yang belum lagi keluar, membuat mata Muni tak menampak apa-apa,
selain gelap. Padahal Muni ingin sekali meli hat, malam ini, pesona
apa gerangan yang ada di rumpun talang itu, sehingga Mak dan Mak Adang
begitu kuat memperebutkannya.

"MUNI, kau belum tidur 'kan? Keluarlah, Mak ingin bicara."

Panggilan Mak memutus angannya. Perlahan Muni turun dan berjalan
menemui Mak. Mak dengan sirih di mulut, tembakau di tangan, tengah
menatap jauh ke luar, ke balik dinding tadir. Dalam remang cahaya
lampu damar kerut wajah Mak semakin jelas. Betapa tuanya wajah Mak.
Padahal Muni merasa yakin, saat dia berangkat dulu wajah Mak masih
mulus.

Tiba-tiba ada sesal menyelip, memutar tali rasanya. Kenapa dulu dia
harus pergi. Tapi segera sesal itu sirna kala ingat bahwa dengan
kepergiannya berarti keadaan berubah.

Ya, dengan sebidang tanah, apa yang bisa dilakukan Mak. Sementara Abak
sudah lama pergi menghadap Illahi. Tak hanya Muni, masih ada tiga lagi
adik-adiknya yang harus ditanggung Mak. Bagaimana dia bisa mendesak
Mak untuk menyekolahkan, sedang untuk makan mereka saja mereka harus
berbagi.

"Jangan terpaku di situ, mendekatlah kemari anakku."

Muni kaget, tak menyangka Mak memperhatikannya.

"Duduklah. Malam ini perasaan Mak rasanya tak tenang. Kau harus
mengetahui seluruhnya, secara tuntas. Kau yang akan melanjutkan
segalanya. Kau paham?"

Muni mengangguk. Ada rasa aneh yang menjalari urat nadinya, terus ke
dada. Sebuah firasat. Tapi Muni melawannya.

"Kau tahu, kenapa Mak Adangmu berkeras hendak menebang talang itu?"
Mak memulai percakapan. Muni hanya menggeleng.

"Mak Adangmu merasa bahwa tanah milik kita berlebih tujuh meter dari
tanah miliknya. Padahal, dalam adat kita di Minangkabau ini,
seharusnya anak laki-laki tak dapat warisan. Tapi karena Etekmu yang
di Jakarta sudah kaya raya, dia menghibahkan tanah bagiannya buat Mak
Adangmu. Tapi akhir-akhir ini Mak Adangmu selalu ribut menuntut
kekurangan tanahnya dari tanah kita."

"Dan Mak tak setuju bukan?" Muni menyela.

"Jelas, Nak. Sudah dapat bagian saja seharusnya dia sudah malu. Mamak
macam apa dia yang membawa harta kemenakannya ke rumah anak istrinya.
Tapi agaknya Mak Adangmu memang telah kehilangan rasa malu. Malah
sekarang mengusik bagian tanah adik perempuannya."

Muni diam, diam yang menyimpan tanya. Di sini, di negerinya ini, yang
punya sistem matrialinial, harta memang jatuh pada anak perempuan.
Apalagi jika harta itu merupakan pusaka tinggi. Mamak juga punya peran
sebagai pelindung kemenakan dan harta juga untuk kemenakan, terutama
kemenakan perempuan jika mereka sudah dewasa.

Kalau ada seorang anak laki-laki yang dewasa dan sudah punya anak
istri mengambil harta pusaka atau sekedar menggarap harta pusaka
tersebut, ini adalah aib besar. Aib yang benar-benar memalukan.

Seorang laki-laki memang berpantang hidup dari pusaka tinggi,
berpantang membawa hasil garapan tanah pusaka tinggi ke rumah anak
istri. Jika itu dia lakukan juga, orang sekampung akan mencibirnya.

"Mak Adangmu itu sudah kena pakasiah bininyo."

Nada suara Mak mengiris. Muni merasakan kuduknya meremang.

"Kau lihat si Udin, teman Mak Adangmu itu. Dia itu justru membela
kemenakannya, menyekolahkannya, sampai semua jadi orang. Dia 'kan juga
punya anak bini. Bukan macam Mak Adangmu, membawa hasil tanah pusaka
ke rumah bininya. Benar-benar mamak yang tak tahu diadat."

Muni masih diam. Barangkali, diam adalah emas untuk saat ini. Dia
takut bicara, takut kalau nanti sampai kelepasan bicara. ya, baru
seberapalah pengetahuannya tentang adat, tentang bagi membagi harta
pusaka, tentang kewajiban mamak. Dia masih buta, makanya tak ingin
membantah.

"Kau tahu kenapa talang itu yang jadi persoalan."

Muni hanya menggeleng.

"Karena talang itu persis berada di batas tanah kita dan tanah dia.
Jadi Mak Adangmu berusaha menebangnya agar mudah menyerobot tanah
kita. Karena talang itu sebagai sepadan, jika talang itu ditebang,
sepadan tanah ini akan kabur. Mungkin saja setelah itu Mak Adangmu
akan menanam rumpun talang baru, jauh menjorok masuk ke tanah kita,
dan menyatakan kalau itu yang jadi sepadan."

Tiba-tiba rasa keadilan bermain di hati Muni. Tanpa mempersoalkan adat
mengenai pembagian pusaka, Muni justru melihat tak ada salahnya kalau
Mak mau bersabar, mau berlunak hati sedikit. Apalah artinya tanah yang
tujuh meter.

"Mak, kalau benar bagian kita lebih, apa salahnya kalau Mak Adang
menuntut. Bukankah lebih baik dibagi dua saja, persoalannya akan cepat
selesai."

Mata Mak berkilat, tanpa Muni bisa memaknakannya. Salahkah bicaranya.
Dada Mak yang memang sudah tipis, turun naik, seperti sesak napas.

"Tidak Muni. Tanah ini adalah pertahanan kita yang terakhir. Tempat
hidup mati kita. Mak Adangmu laki-laki, seharusnya dia pergi
meninggalkan tanah ini untuk kemenakannya dan mencari usaha lain untuk
kehidupan anak istrinya. Tak ada dalam adat kita, anak laki-laki
beroleh harta pusaka. Pusaka tinggi lagi."

"Tapi Mak, sengketa ini tak ada ujung pangkalnya. Kenapa kita tak
mengalah saja. Bukankah Mak yang mengatakan kalau mengalah bukan
berarti kalah. Mak, orang sabar dikasihi Tuhan, itu kata Mak bukan?
Mak, kalau Mak sabar, Mak akan masuk sorga."

"Benar Muni, tapi sabar ada batasnya. Betapa sejak kematian Abakmu
teror demi teror telah dilancarkan Mak Adangmu. Bukankah selama ini
dia basibagak saja? Buah kelapa seenaknya dia turun kan, begitu juga
buah merica yang esok mau dipanen tiba-tiba malamnya lenyap saja.
Siapa lagi yang punya kerja kalau bukan dia. Tapi kali ini tidak, Nak.
Kesemena-menaannya harus kita balas. Kau paham?"

Muni hanya menatap Mak dengan pandangan tak mengerti. Betapa sulit dia
mencerma jalan pikiran Mak. Karena tanah tiga setengah meter, Mak mau
berkeras kepala macam ini. Sekaligus Muni bingung dengan jalan pikiran
Mak Adang, kenapa dia begitu ngotot dengan kelebihan tanah Mak.
Bukankah Mak saudaranya juga.

Kalau dia jadi Mak, dia akan sukarela membagi dua tanah yang berlebih
itu. Atau kalau dia jadi Mak Adang, dia akan biarkan tanah berlebih
itu. Dan rumpun talang biarkan saja terus hidup subur atau dimusnahkan
benar. Apa sulitnya?

"Muni, dari sengketa ini, yang paling Mak pertahankan adalah harga
diri. Apa artinya hidup bila dengan keperkasaannya selaku laki-laki
dan mamak anakku satu-satunya, lalu dia seenaknya berbuat pada kita.
Tak ada yang berani menyanggah selama ini. Tapi tidak kini. Kali ini
akan Mak buktikan bahwa tak selamanya kita lemah. Ingat Muni, kita
sudah terlalu lama ditindas. Apakah harus maaf juga yang kita
tawarkan."

"Bagaimana kalau Mak Adang kalap dan menebang talang itu tanpa setahu
Mak?" Muni mengajuk kesungguhan Mak.

"Itu tak akan terjadi, Anakku. Begitu dia berani melakukannya, dia
akan segera tahu siapa Makmu ini."

Muni tertunduk. Mata Mak berkilat penuh dendam. Sinarnya terasa
membakar dada Muni. Sinar yang belum pernah dia saksikan selama ini.
Muni hanya tahu, Mak punya kesabaran, kelembutan dan kasih sayang
berlimpah. Sinar mata Mak biasanya penuh kasih yang tulus. Kenapa kini
berubah? Muni menggeleng tak mengerti. Benarkah penindasan yang selama
ini diterimanya dari Mak Adang telah membakar dada Mak dan biasnya
sampai di mata Mak.

"Kau satu-satunya anak perempuan Mak dan untuk kau pula warisan ini
kelak. Mak harap kau punya sikap yang sama, mempertahankan hak. Kau
paham, Anakku?" Muni hanya diam.

MAK ADANG adalah laki-laki yang baik, meski sedikit kasar. Itu yang
diingat Muni, kenangannya sepuluh tahun yang lalu. Kala itu Muni baru
delapan tahun.

Dengan menggendong Muni di punggungnya, Mak Adang akan berlari- kari
keci di pematang sawah, mengejar kerbau milik mereka. Atau dengan
senang hati Mak Adang akan mengajarinya menombang udang yang banyak
bersembunyi di balik batu sungai.

Juga masih diingat Muni, bagaimana dia menjerit-jerit ketakutan waktu
Mak Adang melemparnya dengan belut. Mak juga kerap memarahi Mak Adang,
karena tanpa rasa bersalah Mak Adang akan membawanya bertanggang
semalaman, menunggui buah durian.

Ketika Muni dikejar anjing, Mak Adang pula yang segera turun tangan.
Malah Mak Adang pula yang kemudian dikejar anjing itu, sehingga Mak
Adang ditabrak sepeda Pak Husin yang dikenal sebagai juragan rumput.

Tapi itu dulu. Benarkah kini Mak Adang telah berubah. Sepuluh tahun
memang bukan waktu yang pendek.

Menurut Mak, berkali-kali sudah sengketa antara dia dan Mak Adang
diselesaikan ninik mamak di mesjid, tapi tak pernah menjumpai titik
temu. Selalu saja, beberapa hari setelah itu akan terdengar lagi
ribut-ribut, antara Mak dan Mak Adangnya.

Muni tak bisa menerima jalan pikiran Mak, juga Mak Adang. Percuma Muni
mengatakan pada Mak, kalau sebagai anak perempuan satu- satunya dia
tidak ingin warisan. Dia tidak ingin memiliki tanah hasil dari
sengketa. Kalau bisa, malah Muni ingin membawa warisan pulang, ke desa
ini, setelah mencari penghidupan di kota lain.

Dalam renungannya, kadang Muni merasa menyesal dengan modernisasi yang
kini melanda desanya. Pertikaian antara Mak dan Mak Adang pun berawal
dari modernisasi ini. Dulu, kala desanya belum terja mah jalan aspal,
tak ada yang meributkan soal tanah. Semua ten teram dalam haknya
masing-masing.

Tapi begitu jalan raya membelah desa Muni, segalanya berubah. Tak ada
lagi derak roda pedati atau derit sepeda unta warga desa. Sekarang
raungan sepeda motor dan suara mesin mobil adalah sebuah keakraban
baru.

Karena itu pula tanah yang selama ini nyaris tak berharga, jadi
rebutan. Masyarakat desa berlomba-lomba membagi tanah warisan, lalu
menyertifikatkannya. Ada yang menjual kepada para pendatang. Padahal
setahu Muni, tanah warisan pusaka tinggi tak boleh dijual. Itu
merupakan pantangan. Tanah warisan tinggi hanya boleh dimanfaatkan
untuk kesejahteraan anak kemenakan.

Dan apa yang telah melanda warga desa, menjalar pula pada Mak Adang.
Dia ingin menyertifikatkan tanah bagiannya, karena ada yang sudah
menawar. Dengan bertambahnya luas tanah, itu berarti bertambah pula
jumlah uang yang akan masuk kantong Mak Adang.

Bagi Mak, menjual tanah pusaka tinggi sudah menyalahi aturan, apalagi
kini mamak anak-anaknya yang seharusnya membela dan melindunginya,
malah ikut merongrong dan selalu membuat hidup Mak tidak tenang.

"KEMBALILAH tidur, Nak. Kau telah paham sikap Mak. Tak banyak yang Mak
harapkan selain pembelaanmu terhadap pendirian Mak. Karena segalanya
ini Mak lakukan demimu, demi adik-adikmu," ujar Mak.

Muni kembali ke kamar dan telentang di atas balai-balai yang hanya
beralaskan kasur tipis. Di sinilah dia dan adik-adiknya harus saling
berbagi tempat, agar dapat tidur nyenyak. Muni mengeluh. Kenapa begitu
susah Mak diberi pengertian? Atau benar seperti kata Mak, bahwa dia
yang belum tahu apa-apa.

Kala malam merangkak semakin larut, sayup-sayup desau daun talang
terdengar riuh di telinga Muni. Lalu suara berisik, kemudian diam.
Tapi sejenak, kembali desau itu makin keras. Muni tak hendak bangun,
mungkin di luar sedang badai, pikirnya. Muni menarik selimut, lalu
memejamkan mata.

Dan kantuk itu berubah menjadi kekagetan luar biasa, kala malam
dipecahkan oleh lolong kesakitan. Arahnya seperti dari rumpun talang.
Tak lama kemudian, malam hingar bingar oleh hiruk suara orang kampung.
Lunglai Muni keluar, setelah tak menjumpai Mak dalam kamar. Dia
menyaksikan, kegelapan malam benderang oleh cahaya lampu petro mak.

Tiba-tiba malam kembali dipecah oleh suara jerit. Kali ini jerit Muni.
Di sana, di antara serakan batang-batang talang, terkapar tubuh Mak
Adang, penuh darah. Sementara dalam jarak tiga depa berdiri Mak,
dengan tangan masih memegang talang yang ujungnya diruncingkan. Talang
itu berlumuran darah.***










Pakasiah bininyo = guna-guna istrinya
Bako = keluarga dari pihak ayah
Basibagak = tidak peduli



by_Ellyza B Ahadi
Share:

Kepada Hujan

Kepada hujan aku berkata
Dimanakah kau berada ketika kemarau datang menyapa kami?
Ladang-ladang mongering
Karena dehidrasi
Mengelu-elukan dirimu
Menyemburkan setitik air untuk mempelancar irigasi

Apa kau tak melihat
Garangnya mentari menyengat dikala pagi dan petang
Menghisap liurliur kami sebagai persediaan
Untuk menelan makan nanti sore

Dimanakah tempat berlabuhmu
Biar ku jemput kau
Bersama segepok sesajen dan berbagai mantra
Agar kau datang dan menjenguk kami
Yang telah sakit
Dehitrasi tak kendali

by ellyca
Share:

Janji-Janjiku

ditangku kau bernapas lembut
mengalun merdu mengalir disetiap pori-pori jiwa
bergelimbang takhta terpatri bersama nada-nada cinta
ketika sembah sujudku kembali menyapa

tangganku menggenggam oleh sebuah penghargaan
menggalirkan gemericik-gemericik tetesan bola mata
mendekap harap butiran kesempatan
agar aku tetap bisa untuk selalu ada

berkencanmu denganku tak akan kekal
sampai aku daam gulungan tikar
janji-janjiku akan ku pertaruhkan
ketika kelak kau memanggilku dipadang mahsyar

by_ellyca
Share:

Edelweiss

Ku dengar abadi diujung sana
Berselimut kabut putih
Bersama embun-embun kasar menetes lembut
Diujung putik putihmu
Menghidangkan segala umpan merekahkan senyum kekalmu

Hidupmu putih keruh tanpa bintik dikelopak
Putih indahmu menari-nari lentik
Menanti surise merangkak dari peraduan

Sungguh pemandangan yang kekal
Nyawamu tak dapat digantikan
Membaur bersama angin dan musim
Diujung fajar maupun dibalik layar petang
Rekah tubuhmu melelehkan sepasang mata
Kepada semua yang memandang
Sekuntum bunga dipuncak keabadian

20 januari 2009

By_ellyca
Share:

Suatu Masa Dimana aku !

Di tumpukan buku-buku yang karatan
Ku jelajahi dunia dalam tiga dimensi
Kutemukan ribuan galaxi mengitari satu musim
Dimana aku dan jiwaku luruh
Bersama embun berjatuhan dikala pagi

Tampak sekilas aku berada
Terperangkap dalam masa
Dimana aku dalam tujuh lapis paling bawah
Bersama gerombolan debu-bebu hitam
Yang tak lain, hanyalah racun kehidupan
Dan dimana aku dalam tujuh lapis bumi paling atas
Bersama kumpulan ribuan kerbau dungu
Yang memiliki otak sebagai hiasan saja

Jiwaku luruh berbaur bersama angin
Ketika dinding peradaban mulai retak
Tergempur granit-granit melesat kuat
Dan,
Alur dimensi itu
Mengerogoti tubuhku untuk segera
Menutup perjelajahan dari tumpukan buku-buku
Membuat organ dan tubuhku remuk
Runtuh dibantalan kursi

by ellyca
Share:

Jejak Langkah di Menit Terakhir

Bebu-debu telah membusuk didadaku
Menyumbat celah diantara tulang-tulang iga
Menggembang-kempiskan kedua diafragma
Dalam tanah berkapur

Kakiku tlah kaku menjadi batu
Menyelusuri hidup diberbagai musim yang ada
Dimana musim barat tlah lama hilang dalam tubuhku
Dan kini angin petang tlah menjemput untuk pulang

Mataku nanar tergerus jiwa yang semakin rapuh
Terkapar jiwa renta diatas ranjang
Meninggalkan jejak-jejak langkah
Diatas tanah berkapur

Dimenit terakhir ini
aku tetap menjadi tanah yang berkapur
ingin ku hirup kembali musim semi esok pagi
sebelum aku menggendap
berbaur bersama tanah

by_ellyca
Share:

Diatas Hamparan sajadah

Sebelum bumi menggunyah fajar dipertiga malam
Kusapa sepi yang masih bercumbu dengan mimpi
Berpeluk diantara bunga-bunga tidur
Masih memutikkan cikal bakal kehidupan esok

Diatas hamparan sajadah yang membentang
Ku sampaikan rindu dalam sujudku
Membuncah pecah ditepian mata
Membanjiri pipi yang mengering

Malam-malammu yang berbisik adalah aku
Menganyam kata-kata yang telah lama
Mengering dipangkal lidah
Tak terbasuh setetes pun dengan air syurgamu

Biarkan aku selalu berlindung dipelukmu
Menyadarkan segala nasib yang belum tentu ada titik
Penuntun arah menyusun kerangka hari

by_ellyca
Share:
sometimes what we see is not the same as what we feel
sometimes what we feel is not the same as what we see
and sometimes what we hear is not the same as in the sayings
and sometimes what we say is not the same as what we say
conscience say it what you want to say and listen carefully to what you hear
Share:

tak ada sajak di bulan Juni

Tak ada lagi sajak yang biasa ku kirim padamu seperti bulan-bulan sebelumnya
Semuanya telah raib terampas pagi yang dingin
Mengigilkan segala bait yang menjadikannya beku dalam tubuhku

Juni telah membaca semuanya
Jika bulan ini aku akan mengirimimu sepenggal sajak terindah sebagai tanda mekarnya anggrek yang tertanam diberanda rumahku
Dengan sengaja ia mengodaku untuk betarung mengalahkan duri-duri yang ditaburkan di tengah perjalanan

Kini aku malu pada waktu yang mengiringku kedalam sebuah istana tertinggi dalam benakku
sebuah tempat dimana kutemukan tempat yang membuatku asyik bercinta dengan kata
Tanganku begitu lihai menawarkan bait-bait sajak yang menciptakan pelangi, terkadang hujan dimataku
Namun, kini tinggalah tetes-tetes embun sebagai butiran mata yang mewakili sajakku yang tertunda

Sepertinya juni telah mengisyaratkan padaku pada jauh-hauh hari sebelumya
jika sebuah kiriman itu harus segera di akhiri
karena sajak, bukanlah sebuah sajak yang biasa
sajak kekal akan luka dan derita mengerayangi tubuhku secara pelahan kala terbuai cinta tanpa sebuah logika



by: ellyca
19 Juni 2011/21:08
Share:
Instagram

Postingan Populer

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.