Please enable JavaScript to access this page. Kaki Semut
  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Sengketa

"PERSOALANNYA bukan harta, Anakku. Tapi hak. Tanah ini adalah milik
kita yang sah, apapun yang terjadi kita harus mempertahan kannya."

"Benar soal hak, tapi haruskah untuk itu kita saling bermusuhan.
Haruskah karena itu kita saling dendam. Mak yang mengajari dulu,
mengalah bukan berarti kalah. Tapi kenapa sekarang Mak tak mau
mengalah?"

Perempuan tua yang dipanggil Mak oleh anak perawannya tersebut hanya
diam. Dadanya yang cuma dibalut kutang tua, memperlihatkan dengan
jelas susunan tulang-tulang di dadanya turun naik, seperti menahan
sesak yang tak kunjung lepas.

"Muni, kau masih terlalu muda untuk memahami arti sebidang tanah bagi
kita. Kelak bila kau dewasa, menjadi ibu, kemudian menjadi tua seperti
Mak-mu ini, kau juga akan bersikap sama. Ingat Muni, sejauh-jauh pergi
merantau, tanah kampung tetap punya arti."

Setelah itu diam. Tak ada yang ingin mulai berujar. Sayup-sayup suara
jengkrik memecah malam. Sedangkan cahaya kunang-kunang kelap-kelip,
menyelinap masuk lewat dinding tadir.

Muni, gadis yang baru masuk dalam kehidupan desa setelah lebih enam
tahun ikut bako-nya di kota, tak mampu memejamkan mata, setelah
percakapan itu. Betapa desa telah sarat dengan keganji lan, juga
Mak-nya. Dulu wanita itu amat patuh, lugu dan pendiam, layaknya
seorang wanita desa. Tapi kini? Betapa Mak menjadi keras hati dan
pantang menyerah.

Enam tahun di kota, sampai Muni menamatkan SMA, betapa lamanya jarak
itu. Jarak yang telah mampu mengubah segalanya, juga wajah desa, yang
saat di kota amat dia rindukan. Tak ada lagi jalan setapak menuju
kali, tempat dulu dia bersuka ria. Tak lagi ada anak perawan dengan
tudung lebar menampi padi di pinggir sawah. Tak juga ada lenguh
kerbau, suara itik serta bau lumpur yang menyengat. Jalan setapak
telah berubah menjadi jalan aspal. Sawah telah menjadi rumah-rumah.

Yang tak berubah hanyalah pondok tempat Muni, adik-adiknya serta Mak
menghabiskan hari-hari mereka. Pondok beratap rumbia, berlantai papan
dengan dinding tadir, berukuran enam kali enam meter. Lalu serumpun
talang di pekarangan samping kanan, yang nampaknya makin rimbun saja.

Dari balik dinding kamar tidur, Muni menangkap suara gesekan daun-daun
talang, lemah tapi mendayu. Seperti suara anak perawan yang berdendang
lirih, menangisi kematian sang tunangan. Dulu, talang itu kerap dia
tebang untuk mendapatkan satu ruas buat celengan. Atau jika bulan
maulud tiba, talang itu akan jadi korban, dijadikan wadah membuat
lemang.

Ketika seminggu lalu kembali Muni menginjakkan kaki di desa, dia lihat
talang itu berpagar kawat duri. Rimbunan daunnya meliuk- liuk ke
pondok mereka, membuat suasana kelam jadi sendu. Kala Muni pergi,
talang itu hanya serumpun kecil, tapi kini sudah merupakan sebuah
lingkaran dengan rumpun besar.

Di bawah talang itu pula kemarin dia lihat Mak Adang-nya
mengacung-acungkan parang.

RUMPUN talang itu sudah ada sejak lama, jauh sebelum Muni lahir. Dan
rumpun talang itu telah disepakati menjadi batas tanah mereka, tanah
Mak dan Mak Adang-nya. Sedangkan batas tanah Mak dan Etek-nya adalah
batang mangga besar di samping kiri pondok mere ka. Tanah pusaka
tinggi yang telah dibagi-bagi itu menjadi sumber kehidupan mereka;
Mak, Mak Adang dan Etek-nya.

Di atas tanah yang luasnya 500 meter itu ada pohon kelapa, garda
munggu dan merica. Ada juga tanaman muda berupa ubi dan cabe. Dalam
resah, Muni ingin menatap keluar, menatap ke arah rumpun talang. Tapi
bulan yang belum lagi keluar, membuat mata Muni tak menampak apa-apa,
selain gelap. Padahal Muni ingin sekali meli hat, malam ini, pesona
apa gerangan yang ada di rumpun talang itu, sehingga Mak dan Mak Adang
begitu kuat memperebutkannya.

"MUNI, kau belum tidur 'kan? Keluarlah, Mak ingin bicara."

Panggilan Mak memutus angannya. Perlahan Muni turun dan berjalan
menemui Mak. Mak dengan sirih di mulut, tembakau di tangan, tengah
menatap jauh ke luar, ke balik dinding tadir. Dalam remang cahaya
lampu damar kerut wajah Mak semakin jelas. Betapa tuanya wajah Mak.
Padahal Muni merasa yakin, saat dia berangkat dulu wajah Mak masih
mulus.

Tiba-tiba ada sesal menyelip, memutar tali rasanya. Kenapa dulu dia
harus pergi. Tapi segera sesal itu sirna kala ingat bahwa dengan
kepergiannya berarti keadaan berubah.

Ya, dengan sebidang tanah, apa yang bisa dilakukan Mak. Sementara Abak
sudah lama pergi menghadap Illahi. Tak hanya Muni, masih ada tiga lagi
adik-adiknya yang harus ditanggung Mak. Bagaimana dia bisa mendesak
Mak untuk menyekolahkan, sedang untuk makan mereka saja mereka harus
berbagi.

"Jangan terpaku di situ, mendekatlah kemari anakku."

Muni kaget, tak menyangka Mak memperhatikannya.

"Duduklah. Malam ini perasaan Mak rasanya tak tenang. Kau harus
mengetahui seluruhnya, secara tuntas. Kau yang akan melanjutkan
segalanya. Kau paham?"

Muni mengangguk. Ada rasa aneh yang menjalari urat nadinya, terus ke
dada. Sebuah firasat. Tapi Muni melawannya.

"Kau tahu, kenapa Mak Adangmu berkeras hendak menebang talang itu?"
Mak memulai percakapan. Muni hanya menggeleng.

"Mak Adangmu merasa bahwa tanah milik kita berlebih tujuh meter dari
tanah miliknya. Padahal, dalam adat kita di Minangkabau ini,
seharusnya anak laki-laki tak dapat warisan. Tapi karena Etekmu yang
di Jakarta sudah kaya raya, dia menghibahkan tanah bagiannya buat Mak
Adangmu. Tapi akhir-akhir ini Mak Adangmu selalu ribut menuntut
kekurangan tanahnya dari tanah kita."

"Dan Mak tak setuju bukan?" Muni menyela.

"Jelas, Nak. Sudah dapat bagian saja seharusnya dia sudah malu. Mamak
macam apa dia yang membawa harta kemenakannya ke rumah anak istrinya.
Tapi agaknya Mak Adangmu memang telah kehilangan rasa malu. Malah
sekarang mengusik bagian tanah adik perempuannya."

Muni diam, diam yang menyimpan tanya. Di sini, di negerinya ini, yang
punya sistem matrialinial, harta memang jatuh pada anak perempuan.
Apalagi jika harta itu merupakan pusaka tinggi. Mamak juga punya peran
sebagai pelindung kemenakan dan harta juga untuk kemenakan, terutama
kemenakan perempuan jika mereka sudah dewasa.

Kalau ada seorang anak laki-laki yang dewasa dan sudah punya anak
istri mengambil harta pusaka atau sekedar menggarap harta pusaka
tersebut, ini adalah aib besar. Aib yang benar-benar memalukan.

Seorang laki-laki memang berpantang hidup dari pusaka tinggi,
berpantang membawa hasil garapan tanah pusaka tinggi ke rumah anak
istri. Jika itu dia lakukan juga, orang sekampung akan mencibirnya.

"Mak Adangmu itu sudah kena pakasiah bininyo."

Nada suara Mak mengiris. Muni merasakan kuduknya meremang.

"Kau lihat si Udin, teman Mak Adangmu itu. Dia itu justru membela
kemenakannya, menyekolahkannya, sampai semua jadi orang. Dia 'kan juga
punya anak bini. Bukan macam Mak Adangmu, membawa hasil tanah pusaka
ke rumah bininya. Benar-benar mamak yang tak tahu diadat."

Muni masih diam. Barangkali, diam adalah emas untuk saat ini. Dia
takut bicara, takut kalau nanti sampai kelepasan bicara. ya, baru
seberapalah pengetahuannya tentang adat, tentang bagi membagi harta
pusaka, tentang kewajiban mamak. Dia masih buta, makanya tak ingin
membantah.

"Kau tahu kenapa talang itu yang jadi persoalan."

Muni hanya menggeleng.

"Karena talang itu persis berada di batas tanah kita dan tanah dia.
Jadi Mak Adangmu berusaha menebangnya agar mudah menyerobot tanah
kita. Karena talang itu sebagai sepadan, jika talang itu ditebang,
sepadan tanah ini akan kabur. Mungkin saja setelah itu Mak Adangmu
akan menanam rumpun talang baru, jauh menjorok masuk ke tanah kita,
dan menyatakan kalau itu yang jadi sepadan."

Tiba-tiba rasa keadilan bermain di hati Muni. Tanpa mempersoalkan adat
mengenai pembagian pusaka, Muni justru melihat tak ada salahnya kalau
Mak mau bersabar, mau berlunak hati sedikit. Apalah artinya tanah yang
tujuh meter.

"Mak, kalau benar bagian kita lebih, apa salahnya kalau Mak Adang
menuntut. Bukankah lebih baik dibagi dua saja, persoalannya akan cepat
selesai."

Mata Mak berkilat, tanpa Muni bisa memaknakannya. Salahkah bicaranya.
Dada Mak yang memang sudah tipis, turun naik, seperti sesak napas.

"Tidak Muni. Tanah ini adalah pertahanan kita yang terakhir. Tempat
hidup mati kita. Mak Adangmu laki-laki, seharusnya dia pergi
meninggalkan tanah ini untuk kemenakannya dan mencari usaha lain untuk
kehidupan anak istrinya. Tak ada dalam adat kita, anak laki-laki
beroleh harta pusaka. Pusaka tinggi lagi."

"Tapi Mak, sengketa ini tak ada ujung pangkalnya. Kenapa kita tak
mengalah saja. Bukankah Mak yang mengatakan kalau mengalah bukan
berarti kalah. Mak, orang sabar dikasihi Tuhan, itu kata Mak bukan?
Mak, kalau Mak sabar, Mak akan masuk sorga."

"Benar Muni, tapi sabar ada batasnya. Betapa sejak kematian Abakmu
teror demi teror telah dilancarkan Mak Adangmu. Bukankah selama ini
dia basibagak saja? Buah kelapa seenaknya dia turun kan, begitu juga
buah merica yang esok mau dipanen tiba-tiba malamnya lenyap saja.
Siapa lagi yang punya kerja kalau bukan dia. Tapi kali ini tidak, Nak.
Kesemena-menaannya harus kita balas. Kau paham?"

Muni hanya menatap Mak dengan pandangan tak mengerti. Betapa sulit dia
mencerma jalan pikiran Mak. Karena tanah tiga setengah meter, Mak mau
berkeras kepala macam ini. Sekaligus Muni bingung dengan jalan pikiran
Mak Adang, kenapa dia begitu ngotot dengan kelebihan tanah Mak.
Bukankah Mak saudaranya juga.

Kalau dia jadi Mak, dia akan sukarela membagi dua tanah yang berlebih
itu. Atau kalau dia jadi Mak Adang, dia akan biarkan tanah berlebih
itu. Dan rumpun talang biarkan saja terus hidup subur atau dimusnahkan
benar. Apa sulitnya?

"Muni, dari sengketa ini, yang paling Mak pertahankan adalah harga
diri. Apa artinya hidup bila dengan keperkasaannya selaku laki-laki
dan mamak anakku satu-satunya, lalu dia seenaknya berbuat pada kita.
Tak ada yang berani menyanggah selama ini. Tapi tidak kini. Kali ini
akan Mak buktikan bahwa tak selamanya kita lemah. Ingat Muni, kita
sudah terlalu lama ditindas. Apakah harus maaf juga yang kita
tawarkan."

"Bagaimana kalau Mak Adang kalap dan menebang talang itu tanpa setahu
Mak?" Muni mengajuk kesungguhan Mak.

"Itu tak akan terjadi, Anakku. Begitu dia berani melakukannya, dia
akan segera tahu siapa Makmu ini."

Muni tertunduk. Mata Mak berkilat penuh dendam. Sinarnya terasa
membakar dada Muni. Sinar yang belum pernah dia saksikan selama ini.
Muni hanya tahu, Mak punya kesabaran, kelembutan dan kasih sayang
berlimpah. Sinar mata Mak biasanya penuh kasih yang tulus. Kenapa kini
berubah? Muni menggeleng tak mengerti. Benarkah penindasan yang selama
ini diterimanya dari Mak Adang telah membakar dada Mak dan biasnya
sampai di mata Mak.

"Kau satu-satunya anak perempuan Mak dan untuk kau pula warisan ini
kelak. Mak harap kau punya sikap yang sama, mempertahankan hak. Kau
paham, Anakku?" Muni hanya diam.

MAK ADANG adalah laki-laki yang baik, meski sedikit kasar. Itu yang
diingat Muni, kenangannya sepuluh tahun yang lalu. Kala itu Muni baru
delapan tahun.

Dengan menggendong Muni di punggungnya, Mak Adang akan berlari- kari
keci di pematang sawah, mengejar kerbau milik mereka. Atau dengan
senang hati Mak Adang akan mengajarinya menombang udang yang banyak
bersembunyi di balik batu sungai.

Juga masih diingat Muni, bagaimana dia menjerit-jerit ketakutan waktu
Mak Adang melemparnya dengan belut. Mak juga kerap memarahi Mak Adang,
karena tanpa rasa bersalah Mak Adang akan membawanya bertanggang
semalaman, menunggui buah durian.

Ketika Muni dikejar anjing, Mak Adang pula yang segera turun tangan.
Malah Mak Adang pula yang kemudian dikejar anjing itu, sehingga Mak
Adang ditabrak sepeda Pak Husin yang dikenal sebagai juragan rumput.

Tapi itu dulu. Benarkah kini Mak Adang telah berubah. Sepuluh tahun
memang bukan waktu yang pendek.

Menurut Mak, berkali-kali sudah sengketa antara dia dan Mak Adang
diselesaikan ninik mamak di mesjid, tapi tak pernah menjumpai titik
temu. Selalu saja, beberapa hari setelah itu akan terdengar lagi
ribut-ribut, antara Mak dan Mak Adangnya.

Muni tak bisa menerima jalan pikiran Mak, juga Mak Adang. Percuma Muni
mengatakan pada Mak, kalau sebagai anak perempuan satu- satunya dia
tidak ingin warisan. Dia tidak ingin memiliki tanah hasil dari
sengketa. Kalau bisa, malah Muni ingin membawa warisan pulang, ke desa
ini, setelah mencari penghidupan di kota lain.

Dalam renungannya, kadang Muni merasa menyesal dengan modernisasi yang
kini melanda desanya. Pertikaian antara Mak dan Mak Adang pun berawal
dari modernisasi ini. Dulu, kala desanya belum terja mah jalan aspal,
tak ada yang meributkan soal tanah. Semua ten teram dalam haknya
masing-masing.

Tapi begitu jalan raya membelah desa Muni, segalanya berubah. Tak ada
lagi derak roda pedati atau derit sepeda unta warga desa. Sekarang
raungan sepeda motor dan suara mesin mobil adalah sebuah keakraban
baru.

Karena itu pula tanah yang selama ini nyaris tak berharga, jadi
rebutan. Masyarakat desa berlomba-lomba membagi tanah warisan, lalu
menyertifikatkannya. Ada yang menjual kepada para pendatang. Padahal
setahu Muni, tanah warisan pusaka tinggi tak boleh dijual. Itu
merupakan pantangan. Tanah warisan tinggi hanya boleh dimanfaatkan
untuk kesejahteraan anak kemenakan.

Dan apa yang telah melanda warga desa, menjalar pula pada Mak Adang.
Dia ingin menyertifikatkan tanah bagiannya, karena ada yang sudah
menawar. Dengan bertambahnya luas tanah, itu berarti bertambah pula
jumlah uang yang akan masuk kantong Mak Adang.

Bagi Mak, menjual tanah pusaka tinggi sudah menyalahi aturan, apalagi
kini mamak anak-anaknya yang seharusnya membela dan melindunginya,
malah ikut merongrong dan selalu membuat hidup Mak tidak tenang.

"KEMBALILAH tidur, Nak. Kau telah paham sikap Mak. Tak banyak yang Mak
harapkan selain pembelaanmu terhadap pendirian Mak. Karena segalanya
ini Mak lakukan demimu, demi adik-adikmu," ujar Mak.

Muni kembali ke kamar dan telentang di atas balai-balai yang hanya
beralaskan kasur tipis. Di sinilah dia dan adik-adiknya harus saling
berbagi tempat, agar dapat tidur nyenyak. Muni mengeluh. Kenapa begitu
susah Mak diberi pengertian? Atau benar seperti kata Mak, bahwa dia
yang belum tahu apa-apa.

Kala malam merangkak semakin larut, sayup-sayup desau daun talang
terdengar riuh di telinga Muni. Lalu suara berisik, kemudian diam.
Tapi sejenak, kembali desau itu makin keras. Muni tak hendak bangun,
mungkin di luar sedang badai, pikirnya. Muni menarik selimut, lalu
memejamkan mata.

Dan kantuk itu berubah menjadi kekagetan luar biasa, kala malam
dipecahkan oleh lolong kesakitan. Arahnya seperti dari rumpun talang.
Tak lama kemudian, malam hingar bingar oleh hiruk suara orang kampung.
Lunglai Muni keluar, setelah tak menjumpai Mak dalam kamar. Dia
menyaksikan, kegelapan malam benderang oleh cahaya lampu petro mak.

Tiba-tiba malam kembali dipecah oleh suara jerit. Kali ini jerit Muni.
Di sana, di antara serakan batang-batang talang, terkapar tubuh Mak
Adang, penuh darah. Sementara dalam jarak tiga depa berdiri Mak,
dengan tangan masih memegang talang yang ujungnya diruncingkan. Talang
itu berlumuran darah.***










Pakasiah bininyo = guna-guna istrinya
Bako = keluarga dari pihak ayah
Basibagak = tidak peduli



by_Ellyza B Ahadi
Share:

Kepada Hujan

Kepada hujan aku berkata
Dimanakah kau berada ketika kemarau datang menyapa kami?
Ladang-ladang mongering
Karena dehidrasi
Mengelu-elukan dirimu
Menyemburkan setitik air untuk mempelancar irigasi

Apa kau tak melihat
Garangnya mentari menyengat dikala pagi dan petang
Menghisap liurliur kami sebagai persediaan
Untuk menelan makan nanti sore

Dimanakah tempat berlabuhmu
Biar ku jemput kau
Bersama segepok sesajen dan berbagai mantra
Agar kau datang dan menjenguk kami
Yang telah sakit
Dehitrasi tak kendali

by ellyca
Share:

Janji-Janjiku

ditangku kau bernapas lembut
mengalun merdu mengalir disetiap pori-pori jiwa
bergelimbang takhta terpatri bersama nada-nada cinta
ketika sembah sujudku kembali menyapa

tangganku menggenggam oleh sebuah penghargaan
menggalirkan gemericik-gemericik tetesan bola mata
mendekap harap butiran kesempatan
agar aku tetap bisa untuk selalu ada

berkencanmu denganku tak akan kekal
sampai aku daam gulungan tikar
janji-janjiku akan ku pertaruhkan
ketika kelak kau memanggilku dipadang mahsyar

by_ellyca
Share:

Edelweiss

Ku dengar abadi diujung sana
Berselimut kabut putih
Bersama embun-embun kasar menetes lembut
Diujung putik putihmu
Menghidangkan segala umpan merekahkan senyum kekalmu

Hidupmu putih keruh tanpa bintik dikelopak
Putih indahmu menari-nari lentik
Menanti surise merangkak dari peraduan

Sungguh pemandangan yang kekal
Nyawamu tak dapat digantikan
Membaur bersama angin dan musim
Diujung fajar maupun dibalik layar petang
Rekah tubuhmu melelehkan sepasang mata
Kepada semua yang memandang
Sekuntum bunga dipuncak keabadian

20 januari 2009

By_ellyca
Share:

Suatu Masa Dimana aku !

Di tumpukan buku-buku yang karatan
Ku jelajahi dunia dalam tiga dimensi
Kutemukan ribuan galaxi mengitari satu musim
Dimana aku dan jiwaku luruh
Bersama embun berjatuhan dikala pagi

Tampak sekilas aku berada
Terperangkap dalam masa
Dimana aku dalam tujuh lapis paling bawah
Bersama gerombolan debu-bebu hitam
Yang tak lain, hanyalah racun kehidupan
Dan dimana aku dalam tujuh lapis bumi paling atas
Bersama kumpulan ribuan kerbau dungu
Yang memiliki otak sebagai hiasan saja

Jiwaku luruh berbaur bersama angin
Ketika dinding peradaban mulai retak
Tergempur granit-granit melesat kuat
Dan,
Alur dimensi itu
Mengerogoti tubuhku untuk segera
Menutup perjelajahan dari tumpukan buku-buku
Membuat organ dan tubuhku remuk
Runtuh dibantalan kursi

by ellyca
Share:

Jejak Langkah di Menit Terakhir

Bebu-debu telah membusuk didadaku
Menyumbat celah diantara tulang-tulang iga
Menggembang-kempiskan kedua diafragma
Dalam tanah berkapur

Kakiku tlah kaku menjadi batu
Menyelusuri hidup diberbagai musim yang ada
Dimana musim barat tlah lama hilang dalam tubuhku
Dan kini angin petang tlah menjemput untuk pulang

Mataku nanar tergerus jiwa yang semakin rapuh
Terkapar jiwa renta diatas ranjang
Meninggalkan jejak-jejak langkah
Diatas tanah berkapur

Dimenit terakhir ini
aku tetap menjadi tanah yang berkapur
ingin ku hirup kembali musim semi esok pagi
sebelum aku menggendap
berbaur bersama tanah

by_ellyca
Share:

Diatas Hamparan sajadah

Sebelum bumi menggunyah fajar dipertiga malam
Kusapa sepi yang masih bercumbu dengan mimpi
Berpeluk diantara bunga-bunga tidur
Masih memutikkan cikal bakal kehidupan esok

Diatas hamparan sajadah yang membentang
Ku sampaikan rindu dalam sujudku
Membuncah pecah ditepian mata
Membanjiri pipi yang mengering

Malam-malammu yang berbisik adalah aku
Menganyam kata-kata yang telah lama
Mengering dipangkal lidah
Tak terbasuh setetes pun dengan air syurgamu

Biarkan aku selalu berlindung dipelukmu
Menyadarkan segala nasib yang belum tentu ada titik
Penuntun arah menyusun kerangka hari

by_ellyca
Share:
sometimes what we see is not the same as what we feel
sometimes what we feel is not the same as what we see
and sometimes what we hear is not the same as in the sayings
and sometimes what we say is not the same as what we say
conscience say it what you want to say and listen carefully to what you hear
Share:

tak ada sajak di bulan Juni

Tak ada lagi sajak yang biasa ku kirim padamu seperti bulan-bulan sebelumnya
Semuanya telah raib terampas pagi yang dingin
Mengigilkan segala bait yang menjadikannya beku dalam tubuhku

Juni telah membaca semuanya
Jika bulan ini aku akan mengirimimu sepenggal sajak terindah sebagai tanda mekarnya anggrek yang tertanam diberanda rumahku
Dengan sengaja ia mengodaku untuk betarung mengalahkan duri-duri yang ditaburkan di tengah perjalanan

Kini aku malu pada waktu yang mengiringku kedalam sebuah istana tertinggi dalam benakku
sebuah tempat dimana kutemukan tempat yang membuatku asyik bercinta dengan kata
Tanganku begitu lihai menawarkan bait-bait sajak yang menciptakan pelangi, terkadang hujan dimataku
Namun, kini tinggalah tetes-tetes embun sebagai butiran mata yang mewakili sajakku yang tertunda

Sepertinya juni telah mengisyaratkan padaku pada jauh-hauh hari sebelumya
jika sebuah kiriman itu harus segera di akhiri
karena sajak, bukanlah sebuah sajak yang biasa
sajak kekal akan luka dan derita mengerayangi tubuhku secara pelahan kala terbuai cinta tanpa sebuah logika



by: ellyca
19 Juni 2011/21:08
Share:

Edelweiss Flower

Tanggalan islami sudah berada diujung pergantian. Bulan tampak mulai tenggelam termakan Brotokolo diwaktu purnama malam ini. Kini beberapa hari lagi bulan asyura atau lebih dikenal dengan bulan syuro sudah didepan mata. Tempat pemujaan untuk pesugihan ramai dikunjungi, kuburan-kuburan para leluhur dipadati, tak ketinggalan perguruan pencak silat berbondong-bondong menyempurnakan ilmunya ikut beraksi. Begitu juga aku, ada rencana besar yang bergeming di dada.


Aku seorang anak yang terlahir sebagai anak tunggal dalam keluarga Wardoyo. Keluarga yang kaya raya di desa. Setiap gerak-gerikku diawasi dan dipantau selama 24 jam penuh. Semata-mata demi menjaga keselamatanku sebagai pewaris tunggal keluarga Wardoyo. Tidak heran setiap akan keluar, aku selalu diintrogasi habis-habisan. Dari ibuku yang overprotective menanyaiku setiap waktu. Tak terkecuali bapakku, pribadi yang keras dan aku harus memenuhi segala ucapannya.
“ Memangnya kamu mau kemana tow, nak?”
“Ke Bromo, aku ingin menghabiskan sisa liburan ini bersama teman-teman, Bu” ucapku dalam nada terbata-bata. Padahal ada suatu yang senggaja aku sembunyikan dari ibu. Aku ingin sekali melihat sebuah bunga yang selalu merekah sepanjang tahun, meskipun tersiram embun yang membuat ngilu serta sengatan sang mentari yang mematikan. Bunga itu, ya Edelweiss flower. Bunga yang selalu abadi dipuncak paling tertinggi.
“Tidak baik anak perempuan keluyuran begitu, apalagi tidak sama orang tua, Bahaya! “
Kata sesepuh dulu sebagai anak tunggal aku rawan sekali bepergian. Apalagi pada saat bulan syuro ini. Katanya banyak setan yang mengintai untuk sebagai sesembahan atau sering disebut dengan tumbal. Entahlah, mungkin itu hanya sebuah mitos saja. Sedangkan aku ingin sekali menyisir berbagai rintangan yang berbuah pengalaman berharga dan pengetahuan yang luas tanpa adanya ikatan besi yang memasung, serta satu impianku selama ini yang memblidak dihati. Menatap mekarnya bunga edelweiss dipuncak gunung yang sejuk. Bunga yang ku impikan sejak dulu.
Pagi-pagi selesai sarapan aku mendatangi teman SMA ku dulu. Dia adalah Ratih, dulu dia adalah salah satu teman akrabku, bisa dibilang soulmate. Namun kini kita telah dipisahkan oleh keadaan.karena dia diterima di perguruan tinggi negeri yang jauh dari desa kami. Sedangkan aku hanya berkuliah di dekat-dekat sini saja. Masih dengan alasan yang sama. Ratih semakin hitam dan pemberani juga. Dikampusnya dia mengikuti UKM (unit kegiatan mahasiswa) komunitas pecinta alam. Tak heran setiap satu bulan sekali dia mendaki gunung diberbagai daerah, dan sekarang giliran gunung Bromo didaerah Probolinggo sebagai tujuan selanjutnya. Dengan sepeda ontelku, aku sembunyi-sembunyi menemui Ratih dan teman-temannya yang sejak kemarin berkunjung kerumahnya.
“ Bagaimana Ratih, aku boleh ikut ?”
“ Apa kamu tidak dimarahi orang tuamu nanti kalau kamu ikut mendaki?”
“Ehm… asal aku boleh ikut, aku akan meyakinkan kedua orang tuaku?”jawabku dengan terengah-engah.
“ Baiklah” jawabnya sedikit ragu.
“oh iya, kalau kamu jadi ikut kami , komunitas PA akan berangkat besok lusa pada tahun baru hijriah. “Ratih memperjelas”
Aku hanya menganggukan kepalaku dan segera kembali pulang kerumah.waktu telah menghampi dzuhur, saatnya bapak pulang dari swahnya. Dalam perjalanan pulang, aku kembali memutar otak, alasan apa yang ampuh untuk menyerang argumen-argumen yang akan digunakan orang tuaku. celakalah, aku terlambat 5 menit pulang kerumah. Bapak telah sampai lebih dulu dan menghadangku di depan pintu.
“Dari mana kamu, nak? Ayah mencarimu dari tadi ” Dengan wajah berkerut didahinya.”
“Aku dari rumah Ratih, pak” Tubuhku gemetar
“Sedang apa kamu kesana, tidak cukup larangan ibumu tadi malam?” Bapakku mulai naik darah.
“Sudah dibilangi dari kemarin, Bromo itu tempat berbahaya. Disana penduduknya orang—orang lain agama dengan kita. Banyak sesajen disetiap sudut rumah. Apalagi pada waktu bulan syuro, gunung Bromo dijadikan sesembahan, tempat pembuangan sesajen. Bahaya!.”
Aku hanya tertunduk diam dan segera lari menuju kamar yang wajahnya merah. Dalam batinku, jika tujuan kita baik kesana dan bertujuan berlibur dan kita datang tidaka mengganggu mereka pasti tidak akan terjadi apa-apa. Karena itu merupakan bentuk ibadah mereka kepada tuhannya. Kita sebagai warga negara yang demokratis wajib menghormat dan menghargai bentuk apapun dan sekecil apapun dari ibadah mereka, sedangkan yang dibilang bapakku itu, semua hanyalah mitos. Yang dipercayai oleh orang jawa dan dijadikan adat yang tak tahu asal-usulnya jika ditanyakan. Jawabannya adalah berasal dari nenek moyang kamu. Begitu seterusnya.
“Turutilah apa perintah kami, nak? Semua ini demi kebaikanmu juga.” Kata ibu yang mengejarku dari ruang tengah.
“Aku hanya ingin berlibur, Bu. Aku ingin melihat yang namanya bunga edelweiss itu. Bunga yang selalu diucapkan teman-teman sekelasku waktu SMA dulu.” Impian yang ku sembunyikan dari ibu terucap jua.”
“Selama ini aku sudah menuruti ibu dan bapak. Kali ini, izinkanlah Bu?” aku bersujud dikaki ibu yang duduk diranjang kamarku.
Meskipun berat hati, akhirnya ibu mengizinkan aku untuk berlibur bersama Ratih dan teman-temannya. Namun restu itu hanya aku dapatkan dari ibu. Sedangkan bapak tetap pada pendiriannya. Beruntunglah, selama tiga hari bapakku akan berkunjung kemakam wali. Memenuhi undangan dari perangkat desa.
Sebongkah mentari masih enggan memerakkan sinar ke bumi. Berselimut menyergap bersama tetes-tetes embun membasuh raut muka. Begitu juga aku, hatiku berdegub kencang tidak sabar pemberangkatan tiba. Sedangkan bapak, mulai pukul 02.00 dini hari telah dijemput oleh rombongan untuk berangkat. Karena yang ditempuh lumayan jauh.
“Jaga anakmu semata wayang itu, Bu. Jangan sampai dia keluar rumah. Besok sudah tahun baru hijriyah. Bahaya!” sambil berjalan mengintipku didalam kamar.
“Baiklah, pak . percayalah pada ibu. Bapak hati-hati dijalan.”
“Kalau begitu aku berangkat dulu. Assalamualaikum!”
”Waalaikumsalam.” Sambil menutup pintu
Kini giliranku memepersiapkan mental menyambut Bromo, berkhayalah ditengah hamparan edelweiss memagari tebing-tebing yang semakin tinggi , semakin curam. Dengan doa ibu, aku langkahkan kaki keluar dari rumah.
“Hati-hati anakku, berdoalah selalu untuk meminta keselamatan.” ibuku tersenyum cemas.”
“Aku akan selalu menjaga diri.” Aku tersenyum dengan mencium tangan dari kedua pipi ibu yang dingin sedikit gemetaran.
Hari ini aku, Ratih dan rombongan siap untuk berjuang untuk menaklukkan gunung Bromo. Roda bus berputar-putar melaju kian cepat. Semakin cepat meninggalkan Desa kami. Tubuhku terasa seperti terbang tanpa ada sangkar yang menghalangi untuk bebas. Terasa mimpi-mimpi yang terindah di gelap semua mimpi-mimpi yang ku selama ini. Dalam benakku, aku telah menyusun hal-hal apa yang akan ku lakukan dalam pendakian nanti. Saking senangnya membuat tubuhku digerogoti rasa lelah dan mengantuk membius mataku yang menyala kegirangan.
Sekitar pukul 3 sore bus yang mengantar kami memasuki kota Probolinggo, tepatnya didaerah Tengger. Udaranya mulai menusuk tulang, sampai-sampai bus tak ingin dekat-dekat menuju puncak. Dengan stater yang pol, bus merangkak sedikit demi sedikit menapaki bukit dengan getstur yang curam. Mulutku bergumam tak henti-hentinya mengucapkan doa kepada sang maha kuasa sampai tiba ditempat yang kami tuju. Kabut-kabut putih semakin tebal menyelimuti tubuh kecilku. Tubuhku semakin menggelembung saja. Tertumpuk jaket tebal lengkap dengan syal yang tebal. Sedangkan lainnya, hanya berkaos oblong dengan celana pendek mulai menghirup udara dingin di sekelilingnya. Munkin sudah terbiasa dengan hawa-hawa yang membuat tubuhku semakin ngilu.
Senja kian larut bersama kabut-kabut yang menghempaskan dingin dibadan. Kami bersantai sejenak dengan memasang api unggun di depan villa. Lirih-lirih alunan music gitar akustik menambah hangatnya tubuh. Mulut kami bergerak-gerak menyenandungkan beberapa lagu mulai dari dangdut sampai lagu pop. Selang waktu berganti ada suara gaduh dari timur lingkaran kami. Salah satu teman kami ada yang kesurupan. Dia berteriak-teriak tak jelas diucapkan. Suasa menjadi genting dan kalut. Beruntunglah suara itu hanya beberpa menit saja. Karena salah seorang mencoba mengobatinya.
“jagalah berperilaku kalian jika ingin selamat disini.” Bapak setengah baya itu memeringati.
“ Maap sebelumnya, Pak. Apa yang telah kami lakukan sehingga terjadi hal ini ?”
Kami semua binggung.
“Setiap warga disini beribadah selama 4 kali sehari disaat jam-jam tetentu. Jam 6 pagi dan petang, serta jam 12 siang dan malam.”
Tubuh kami bergetar, darah terasa mendidih mengungkapkan udara panas. Malam kian mencekam diantara sela-sela waktu yang tergolong sore bagi kami. Begitu juga hasraku untuk memetik edelweiss kian pupus saja tertutup kabut malam. Namun dengan hati bersih, kami menyiapkan mental untuk tetap mendaki.
Jari-jariku semakin kaku, tubuhku semakin ngilu ketika jarum jam mengarah pukul 02.00 dini hari. Kudapati dingin begitu erat. Salah seorang ketua rombongan memberi aba-aba untuk bersiap-siap mendaki.
“Sebentar lagi pendakian dimulai. Siapkan pembekalan kalian.”
Bersama Ratih, kita berpegang erat-erat agar tidak terpisahdari rombongan. Rasa dingin yang membekukan tentang berubah menjadi hangat terbakar rasa penantian untuk segera memetik edelweiss dipuncak gunung Bromo.
“Bromo, aku dataaaaang! Izinkan aku memetik edelweiss” gumamku dalam hati menjerit keras.
Rute yang panjang, pendakian semakin curam melesat tinggi keatas. Sekitar pukul 04.00 pagi puncak didepan mata. Sunrise yang begitu indah, sang mentari memercikkan sinarnya. Dengan menatap lautan kabut yang menutupi bukit-bukit dibawahnya. Satu selalu ku ingat, memetik bunga edelweiss di puncak gunung Bromo. Untuk ku persembahkan untuk yang selalu melindungiku dikala terik dan dingin menyerang tubuh. Sebagai tanda kemampuanku menantang kerikil-kerikil Bromo.
Mentari semakian tersenyum, kian gencar memancarkan butir-butir sinarnya. tak lama kemudian.
“berkumpul!” teriak pemimpin rombongan dari kejauhan
“kita telah berhasil mendaki dengan selamat, mari rentangkan tangan untuk kesuksesan kita.”
“Bromo kita berhasil !” suara membeludak memutari bebatuan gunung-gungung Bromo dan menghapus kabut-kabut putih yang menempel di muka kami.
Aku tapi langkah demi langkah meninggalkan puncak gunug dengan setangkai bunga edelweiss yang ada di genggamanku menjadi saksi bisu keberhasilanku membuktikan mitos kedua orangtuaku. Entahlah apa yang dilakukan bapak ketika aku pulang nanti. Mendapati aku yang lusuh dengan bunga Edelweiss di genggaman tangan.

by: elliza
Share:

Jejak Kaki

Kita pijak bumi ini dengan hati
Dan kelak yang terukir dan tertertinggal
Hanya jejek kaki yang abadi
Di sini

25102010/sby/
ayudhia.had_07
Share:

Mimpi atau harapan........

Terkadang mimpi hanya akan menjadi mimpi
dan terkadang harapan juga akan hanya menjadi sebuah hayalan
tapi mimpi teteplah mimpi dan harapan tetaplah harapan
mimpi tak akan pernak menjadi harapan
dan harapan tak akan pernah menjadi mimpi
semuanya hanya mimpi
mimpi yang kosong
dan semuanya juga tak akan menjadi harapan
yang ada hanya harapan yang kosong
mimpi dan harapan apalah arti itu semua...

_ayudhia.had_07-
Share:

impian dan harapan

terkadang semua yang kita harapkan tak sesuai dengan apa yang kita ingnkan
terkadang apa yang kita pikirkan hanya akan menjadi sebuah impian
tapi jika kita ingin semua itu terwujud maka kita harus terus berusaha
biarkan semua itu waktu yang akan menetukannya
kita hanya bisa berusaha dan berdoa.
_ayudhia>had_07_
Share:
Instagram

Label

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.